Rumah Merah Lasem Tiongkok Kecil yang Tak Lekang Waktu

Rumah Merah Lasem: Tiongkok Kecil yang Tak Lekang Waktu

Rumah Merah Lasem: Panduan Lengkap, Harga Tiket, Sejarah & Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Berkunjung

Ada bangunan di Lasem yang tidak bisa dilewati begitu saja. Bukan karena ukurannya yang mencolok atau lokasinya yang strategis — meskipun keduanya benar. Tapi karena begitu berdiri di depannya, di hadapan dinding merah yang tebal dan tinggi dengan gapura bergaya Tionghoa yang megah, ada sesuatu yang membuat langkah kaki berhenti secara naluriah. Seperti kesadaran yang tiba-tiba muncul: bangunan ini menyimpan lebih banyak cerita dari yang terlihat dari luar.

Rumah Merah Lasem — atau yang bernama resmi Tiongkok Kecil Heritage Lasem — adalah bangunan bersejarah bergaya Tionghoa-Hindia Belanda yang sudah berdiri sejak sekitar tahun 1860 di kawasan Pecinan Karangturi, Lasem, Rembang. Di balik dinding merahnya yang tebal, tersimpan lebih dari 160 tahun perjalanan sejarah peradaban Tionghoa di Lasem — dari era saudagar rokok dan batik yang makmur, masa terbengkalai, hingga restorasi yang mengubahnya menjadi destinasi wisata heritage paling ikonik di Jawa Tengah bagian utara.

Panduan ini menyajikan semua yang perlu diketahui tentang Rumah Merah Lasem: sejarah lengkap, harga tiket dan penginapan, semua aktivitas dan fasilitas, serta tips terbaik. Untuk menjelajahi Rumah Merah bersama destinasi-destinasi bersejarah Lasem lainnya dalam satu perjalanan terencana, tersedia paket wisata Lasem 2 hari 1 malam dan paket wisata Lasem 1 hari dari WisataMu Tour Travel yang mengemas seluruh pengalaman terbaik Lasem dengan transportasi nyaman dan pemandu berpengalaman.

🏮 Fakta Kunci Rumah Merah Lasem: Dibangun sekitar 1860 | Luas lahan ±7.000 m² | Alamat: Karangturi Gang 4 No. 7, Lasem | Instagram: @rumahmerahheritagelasem (40K+ followers) | Tiket kunjungan: Rp 5.000/orang | Menginap: Rp 200.000–500.000/malam (sudah termasuk sarapan) | Dikunjungi Presiden SBY 16 Maret 2016

Sejarah Rumah Merah Lasem — Dari Saudagar ke Penginapan Heritage

Rumah Merah Lasem bangunan cagar budaya bergaya Tiongkok Hindia di Rembang
Rumah Merah Lasem bangunan cagar budaya bergaya Tiongkok Hindia di Rembang

Bangunan ini pertama kali tercatat dalam peta Lasem tahun 1860 sebagai bagian dari kompleks Pecinan Karangturi — kawasan yang pada abad ke-19 adalah jantung kehidupan dan perdagangan masyarakat Tionghoa di Lasem. Dari berbagai peninggalan yang ditemukan di dalam rumah saat restorasi — alat penggiling rokok dalam jumlah banyak, peralatan membatik, dan perlengkapan dapur lengkap — pemilik awal diidentifikasi sebagai saudagar Tionghoa yang bergerak di bidang rokok dan batik, dua komoditas paling bergengsi di Lasem pada era itu.

Setelah pemilik aslinya meninggalkan Lasem, bangunan ini kemudian terbengkalai dan selama bertahun-tahun difungsikan sebagai sarang burung walet. Kondisinya terus memburuk hingga hampir tidak ada yang mengenalinya sebagai bangunan bersejarah yang berharga.

Babak baru dimulai ketika Ir. Rudy Hartono, pengusaha asal Lasem, mengakuisisi bangunan ini sekitar tahun 2012. Dalam wawancara yang dilakukan pada 28 April 2026, Rudy Hartono mengungkapkan bahwa motivasi awalnya bukan untuk membangun destinasi wisata. Terinspirasi oleh keindahan bangunan bersejarah yang ia lihat di Jakarta sekitar 2009, ia mulai mencari bangunan tua di Lasem untuk direstorasi. “Saya awalnya berdagang elektronik. Sekitar tahun 2009 saya sering ke Jakarta. Waktu itu ada pembangunan Hotel Novotel Gajah Mada. Saya melihat bangunannya sangat bagus. Dari situ saya mulai mencari tempat atau tanah di Lasem yang ada bangunan tuanya,” tuturnya.

Setelah memperoleh bangunan pada 2012, Rudy mempelajari arsitektur aslinya secara mendalam sebelum memulai restorasi yang sangat teliti — mempertahankan setiap elemen asli dan menjaga jiwa bangunan ini tetap utuh. Antara 2015 hingga 2016, Rumah Merah menjadi tuan rumah berbagai kegiatan budaya. Kemudian pada September 2016, Rumah Merah resmi dibuka sebagai guesthouse heritage. Tonggak bersejarah: Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung pada 16 Maret 2016 — pengakuan resmi bahwa bangunan ini memiliki nilai yang sangat signifikan bagi warisan budaya Indonesia.

Arsitektur Unik Gaya Tionghoa-Hindia Belanda

Interior klasik di dalam rumah merah Lasem
Interior klasik di dalam rumah merah Lasem

Rumah Merah Lasem adalah contoh langka dari gaya arsitektur Indische Empire yang dipadukan dengan elemen-elemen arsitektur Tionghoa klasik — sebuah bangunan yang secara visual sangat unik dan tidak bisa dikategorikan ke dalam satu tradisi arsitektur tunggal.

Dari luar, yang pertama terlihat adalah bentangan tembok merah yang tebal, panjang, dan tinggi. Di area pintu gerbang, dua patung penjaga berdiri di kiri dan kanan dengan atap gapura bergaya Tionghoa. Bangunan ini memiliki dua pintu masuk: pintu utama bergaya Tionghoa dari kayu jati pilihan, dan pintu kedua berupa pintu besi bercat merah — yang kini menjadi salah satu spot foto paling populer di kompleks ini.

Memasuki kawasan dalam, pengunjung disambut oleh dominasi warna merah dan kuning di hampir setiap permukaan, dua patung barongsai besar yang menjaga pintu masuk ruang utama dengan patung dewa di tengahnya, lampion-lampion yang berjuntai dari langit-langit, dan tulisan aksara Han di berbagai dinding. Bagian dalam rumah utama menampilkan lantai bata merah kuno yang masih asli, dinding kayu jati berwarna hijau yang sudah pupus dimakan usia namun justru menambah aura kekunoan, gebyok penyekat antar ruang berukir khas Tionghoa, serta keramik kuno yang dipertahankan sebagai koleksi.

Di halaman belakang terdapat sumur tua berwarna merah yang dipercaya memiliki tuah — kontras visual yang sangat dramatis — dan yang paling mengejutkan bagi banyak pengunjung: sebuah bungker tersembunyi di bawah kompleks yang menyimpan cerita tersendiri tentang masa-masa kelam dalam sejarah Lasem.

🏛️ Catatan Arsitektur: Sebutan “Indische Empire” atau “China-Hindia” merujuk pada gaya bangunan yang memadukan elemen desain Eropa (kolonial Belanda) dengan ornamen dan tata ruang khas Tionghoa — sebuah gaya yang sangat khas dari era abad ke-19 di kota-kota pesisir utara Jawa seperti Lasem, Semarang, dan Lasem. Gaya ini sangat langka dan hampir tidak diproduksi lagi setelah era kolonial berakhir.

Harga Tiket Masuk dan Tarif Penginapan Rumah Merah Lasem 2026

Jenis Layanan Harga Keterangan
Tiket Masuk Kunjungan Rp 5.000 / orang Akses penuh ke seluruh area kompleks + spot foto
Kamar Tipe Deluxe Rp 360.000 / malam King bed 2 orang; WiFi, AC, TV, kamar mandi dalam, air panas, sarapan
Kamar Tipe Eksklusif Rp 450.000 / malam Fasilitas setara deluxe + kamar lebih luas; sudah termasuk sarapan
Kamar Heritage (range umum) Rp 200.000–500.000 / malam Semua tipe kamar; sudah termasuk sarapan pagi
Sarapan Pagi Sudah termasuk Pukul 07.00–09.30; pilihan: lontong tuyuhan atau sate srepeh
Parkir Kendaraan Gratis Area parkir mandiri luas di dalam kompleks
💡 Nilai Terbaik: Tiket kunjungan hanya Rp 5.000 memberikan akses ke kompleks seluas 7.000 m² — termasuk susur bangunan heritage, spot foto ikonik, workshop batik, dan museum mini. Ini menjadikan Rumah Merah Lasem salah satu wisata heritage dengan nilai kunjungan tertinggi dibandingkan harga tiketnya di seluruh Jawa Tengah.

Jam Buka dan Waktu Terbaik Berkunjung

Rumah Merah Lasem buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Resepsionis tersedia 24 jam untuk tamu menginap. Check-in: pukul 14.00–23.30 WIB; check-out: pukul 12.00 WIB.

Pagi hari (08.00–10.00 WIB) adalah waktu paling ideal untuk kunjungan wisata: pencahayaan alami yang masuk dari berbagai sisi kompleks menciptakan kontras yang sangat dramatis antara warna merah bangunan dan ornamen-ornamen emas, suasana masih sepi, dan udara masih segar. Sore hari (16.00–18.00 WIB) adalah pilihan kedua yang sangat baik untuk foto golden hour pada fasad merah bangunan. Hari kerja selalu lebih sepi dari akhir pekan — sangat direkomendasikan untuk pengalaman tur yang paling personal.

Lokasi dan Cara Menuju Rumah Merah Lasem

Rumah Merah Lasem beralamat di Desa Karangturi, Gang 4 Nomor 7, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59271. Berada di jantung kawasan Pecinan Karangturi.

  • Dari Semarang: ±105 km (2 jam) via tol Semarang–Demak–Kudus–Rembang
  • Dari Surabaya: ±230 km (4 jam) via tol
  • Dari Kudus: ±65 km (1,5 jam)
  • Dari Rembang kota: ±15 km (20–30 menit)
  • Dari Yogyakarta: ±175 km (4 jam) via Solo–Semarang
📍 Tips Navigasi: Cari di Google Maps: “Rumah Merah Heritage Lasem” atau “Tiongkok Kecil Heritage Lasem”. Dari jalur Pantura (Jalan Nasional III), masuk Kecamatan Lasem dan ikuti penunjuk ke kawasan Karangturi. Parkir gratis dan luas tersedia di dalam kompleks.

5 Aktivitas Seru di Rumah Merah Lasem

1. Susur Rumah Merah Bersama Pemandu — Wajib Dilakukan

Aktivitas paling berharga di Rumah Merah Lasem adalah mengikuti tur susur bersama pemandu yang disediakan pengelola — durasi 30 menit hingga 1 jam. Pemandu menelusuri setiap ruangan: dari pintu gerbang, beranda dengan patung dewa besar, ruang utama dengan dua barongsai raksasa, kamar-kamar dengan furnitur kuno, dapur bersejarah, halaman belakang dengan sumur tua yang merah, hingga bungker tersembunyi di bawah kompleks. Setiap langkah disertai cerita sejarah setiap elemen, makna ornamen Tionghoa, dan kisah benda-benda antik yang ditemukan saat restorasi. Tamu yang menginap sudah pasti akan mendapatkan tur ini secara otomatis.

2. Berburu Spot Foto Heritage yang Paling Ikonik

Spot foto terpopuler di Rumah Merah Lasem yang paling sering muncul di media sosial:

  • Pintu besi merah — spot foto paling ikonik di seluruh Lasem
  • Sumur tua berwarna merah di halaman belakang
  • Dua patung barongsai besar di pintu masuk ruang utama
  • Dinding merah dengan aksara Han
  • Lorong interior dengan lantai bata tua dan cahaya yang dramatis
  • Gebyok berukir Tionghoa sebagai penyekat antar ruang

3. Workshop Batik dan Belanja di Oemah Batik Tiga Negeri

Di dalam kompleks Rumah Merah terdapat Oemah Batik Tiga Negeri — workshop aktif batik Lasem yang masih menggunakan teknik turun-temurun. Pengunjung bisa menyaksikan proses pemalaman (penutupan motif dengan lilin malam menggunakan canting) dan melihat koleksi batik berkualitas tinggi. Showroom menjual batik Lasem mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

4. Mengunjungi Museum Mini Koleksi Abad ke-18

Museum Mini Batik Tiga Negeri di dalam kompleks menyimpan berbagai artefak yang ditemukan saat restorasi: keramik kuno, peralatan rumah tangga antik, pernak-pernik peranakan Tionghoa, dan koleksi yang paling mengejutkan — kloset duduk berusia ratusan tahun dari kayu jati, sebuah kemewahan yang sangat luar biasa pada abad ke-18.

5. Makan di Restoran Heritage — Menu Andalan Rajungan

Restoran di dalam kompleks berkapasitas 300 orang dengan suasana Tionghoa yang sangat khas. Menu andalan adalah rajungan khas Rembang — kepiting kecil dengan cita rasa manis segar yang menjadi kebanggaan kuliner pesisir Rembang. Sangat cocok untuk gathering, reuni, atau makan malam dalam suasana heritage yang sangat unik.

Oemah Batik Tiga Negeri — Warisan Batik Peranakan Lasem

Oemah Batik Tiga Negeri adalah workshop batik paling bersejarah yang masih aktif di Lasem. Nama “Tiga Negeri” adalah deskripsi akurat dari proses produksi yang sangat langka: proses pewarnaan dilakukan di tiga kota — Lasem (merah khas), Pekalongan (biru), dan Solo (cokelat soga). Proses tiga kota ini menjadikan batik Tiga Negeri sebagai batik paling kompleks secara produksi dan paling bergengsi di antara semua jenis batik Lasem. Setiap lembar kain adalah bukti kolaborasi antar-tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Museum Mini dan Koleksi Benda Abad ke-18

Museum Mini di dalam kompleks menyimpan artefak nyata dari restorasi bangunan: keramik kuno, peralatan rumah tangga antik, dan koleksi yang paling tidak terduga — sebuah kloset duduk dari kayu jati berusia ratusan tahun. Benda ini adalah bukti kemewahan yang luar biasa pada abad ke-18: di masa ketika sanitasi masih sangat primitif di sebagian besar wilayah Jawa, pemilik rumah ini sudah memiliki kloset duduk yang terdesain dengan sangat baik. Koleksi ini menceritakan tentang kemakmuran dan modernitas yang dimiliki para saudagar Tionghoa Lasem pada zamannya.

Menginap di Rumah Merah Lasem — Panduan Lengkap

Menginap di Rumah Merah Lasem adalah pengalaman yang sangat langka: tidur di dalam bangunan bersejarah berusia 160+ tahun, dikelilingi ornamen Tionghoa autentik, dengan kenyamanan modern yang memadai. Kamar-kamar diberi nama kota-kota besar Tiongkok: Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen — setiap kamar berkapasitas 4 orang.

Fasilitas setiap kamar: AC, WiFi gratis di seluruh area, TV dengan saluran satelit, kamar mandi dalam dengan air panas, air mineral, sabun, sikat gigi, selimut, dan sarapan pagi autentik (pilihan lontong tuyuhan atau sate srepeh — dua hidangan khas Rembang yang tidak akan ditemukan di hotel konvensional manapun). Sarapan disajikan pukul 07.00–09.30 WIB. Fasilitas umum tambahan: layanan shuttle (biaya tambahan), parkir mandiri gratis, pusat bisnis, layanan kamar, dan resepsionis 24 jam.

🛏️ Tips Memesan Kamar: Tamu yang menginap mendapat tur susur Rumah Merah, kunjungan ke Omah Batik, dan Museum Mini Batik Tiga Negeri secara otomatis. Reservasi jauh hari sangat disarankan terutama di akhir pekan dan musim liburan.

Restoran dan Kuliner Khas di Kompleks Rumah Merah

Restoran di dalam kompleks berkapasitas hingga 300 orang dan sangat cocok untuk acara gathering, reuni, atau makan malam dengan latar bangunan bersejarah. Menu andalan yang paling populer adalah rajungan — kepiting kecil khas Rembang dengan daging yang manis dan sangat segar, yang diolah dengan bumbu khas Jawa pesisir. Di Rembang, rajungan adalah simbol kuliner kebanggaan pesisir yang sangat berbeda dari olahan kepiting di kota-kota lain. Tersedia pula berbagai menu masakan Asia lainnya yang ramah di lidah wisatawan Indonesia.

Wisata Terdekat dari Rumah Merah Lasem

Lokasi Rumah Merah Lasem di kawasan Karangturi sangat strategis — hampir semua destinasi heritage utama Lasem bisa dijangkau berjalan kaki atau berkendara singkat.

Lawang Ombo (Rumah Candu) — ±500 meter, GRATIS

Bangunan bersejarah yang pernah menjadi pusat perdagangan opium di Jawa. Arsitektur campuran Eropa-Tionghoa dengan koleksi pipa hisap opium kuno dan jangkar tua. Buka setiap hari 07.00–21.00.

Klenteng Tjoe An Kiong — ±1 km, GRATIS

Salah satu klenteng tertua di Jawa Tengah dengan mural 50 panel Fengshen Yanyi yang sangat langka. Masuk gratis dengan donasi sukarela.

Klenteng Gie Yong Bio — ±1,5 km, GRATIS

Dibangun 1780 untuk menghormati tiga pahlawan perlawanan VOC. Berada di gerbang Kampung Batik Tulis Lasem. Masuk gratis.

Rumah Oei — ±800 meter

Bangunan peranakan 1818, pusat seni, budaya, dan kuliner Lasem. Tersedia kopi lelet khas Lasem dan suasana pecinan yang berbeda.

Pantai Caruban — ±8 km (15 menit), Rp 5.000

Pantai bersejarah peninggalan era Majapahit. Sangat cocok untuk menutup perjalanan Lasem dengan menikmati sunset di tepi laut.

🏮 Jelajahi Lebih Banyak di Lasem

Rumah Merah Hanyalah Awal — Lasem Menyimpan Puluhan Cerita Sejarah Lainnya

Lawang Ombo, Klenteng Cu An Kiong, Kampung Batik Karangturi, Pantai Caruban, kuliner lontong tuyuhan autentik — semua ada di Lasem. WisataMu Tour Travel menyediakan berbagai pilihan paket wisata Lasem terbaik dengan transportasi nyaman, pemandu berpengalaman, dan itinerary yang sudah dirancang untuk pengalaman Lasem yang paling komprehensif.

✓ Transportasi Nyaman  ✓ Pemandu Berpengalaman  ✓ Itinerary Terencana  ✓ Harga Terbaik

Tips Kunjungan ke Rumah Merah Lasem

  • 📷 Datang pagi hari (08.00–10.00) untuk fotografi terbaik dan suasana paling sepi
  • 🧭 Ikuti tur susur Rumah Merah bersama pemandu — ini cara terbaik memahami nilai sejarah di setiap sudut bangunan
  • 🎨 Alokasikan waktu untuk Omah Batik — siapkan anggaran dari Rp 150.000 hingga jutaan rupiah jika berminat membeli batik
  • 🍽️ Coba rajungan di restoran — kuliner Rembang paling autentik yang tidak bisa ditemukan di tempat lain
  • 🛏️ Menginaplah minimal satu malam — merasakan bangunan 160+ tahun ini di malam hari dan menikmati sarapan lontong tuyuhan pagi hari adalah pengalaman tersendiri
  • 📱 Cek Instagram @rumahmerahheritagelasem sebelum berangkat untuk info event, promo, dan ketersediaan kamar
  • 🚗 Kombinasikan dengan destinasi Karangturi — Lawang Ombo, klenteng-klenteng bersejarah, dan kampung batik semua bisa dijelajahi dalam satu hari dari Rumah Merah sebagai basecamp

Rumah Merah Lasem adalah salah satu warisan budaya yang dijaga dengan sepenuh hati dan tidak akan pernah kehilangan relevansinya. Bangunan yang hampir musnah sebagai sarang burung walet ini kini berdiri dengan sangat gagah sebagai salah satu destinasi wisata heritage paling berkesan di Jawa Tengah — bukan karena ia telah berubah, melainkan justru karena ia sangat konsisten mempertahankan dirinya: tembok merah yang sama, ornamen yang sama, lantai bata merah yang sama, dan cerita yang terus bertambah setiap harinya.

Dengan tiket masuk hanya Rp 5.000, workshop batik Tiga Negeri aktif, museum mini artefak abad ke-18, restoran dengan rajungan khas Rembang, dan kamar heritage yang autentik mulai Rp 200.000 — Rumah Merah Lasem memberikan nilai wisata yang jauh melampaui harga yang dibayarkan. Kunjungi bersama pemandu, dengarkan setiap ceritanya, dan biarkan dinding merah itu bercerita tentang 160 tahun peradaban Tionghoa yang bertemu harmonis dengan tanah Jawa.

FAQ — Rumah Merah Lasem

Berapa harga tiket masuk Rumah Merah Lasem?

Tiket masuk Rumah Merah Lasem untuk kunjungan wisata (tanpa menginap) sekitar Rp 5.000 per orang — sudah termasuk akses ke seluruh kompleks 7.000 m² meliputi semua spot foto, workshop batik, dan museum mini. Untuk menginap, harga kamar Rp 200.000–Rp 500.000 per malam sudah termasuk sarapan pagi. Tipe deluxe (king bed) sekitar Rp 360.000 dan tipe eksklusif sekitar Rp 450.000 per malam dengan fasilitas WiFi, AC, TV, kamar mandi dalam, air panas, dan sarapan.

Di mana lokasi Rumah Merah Lasem?

Rumah Merah Lasem berlokasi di Desa Karangturi, Gang 4 Nomor 7, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59271. Berada di kawasan Pecinan Karangturi, jantung wisata heritage Lasem. Cari di Google Maps: Rumah Merah Heritage Lasem. Dari Semarang ±2 jam (105 km), dari Kudus ±1,5 jam, dari Rembang kota ±20 menit. Parkir gratis dan luas tersedia di kompleks.

Kapan Rumah Merah Lasem buka?

Rumah Merah Lasem buka setiap hari pukul 08.00–22.00 WIB. Resepsionis 24 jam untuk tamu menginap. Check-in: 14.00–23.30 WIB; check-out: 12.00 WIB. Waktu terbaik untuk kunjungan wisata adalah pagi pukul 08.00–10.00 untuk pencahayaan terbaik dan suasana paling sepi, atau sore 16.00–18.00 untuk golden hour foto.

Apa yang membuat Rumah Merah Lasem istimewa?

Rumah Merah Lasem adalah satu-satunya penginapan heritage di Lasem yang menawarkan paket lengkap dalam satu kompleks: bangunan Tionghoa-Hindia Belanda berusia 160+ tahun dengan ornamen asli terjaga baik, workshop batik Tiga Negeri aktif, museum mini artefak abad ke-18, restoran kapasitas 300 orang dengan menu rajungan khas Rembang, dan berbagai spot foto ikonik — semuanya di lahan 7.000 m². Pernah dikunjungi Presiden SBY (2016) dan direstorasi sejak 2012 oleh Ir. Rudy Hartono.

Apakah Rumah Merah Lasem angker?

Menurut pemilik Ir. Rudy Hartono dalam wawancara April 2026, kesan angker lebih banyak lahir dari imajinasi dan cerita yang berkembang di masyarakat. Aktivitas wisata berjalan normal setiap hari — dari kunjungan edukasi, tur sejarah, hingga tamu menginap. Pengelola justru mengajak pengunjung melihat Rumah Merah sebagai saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Lasem. Setelah mendengar penjelasan pemandu tentang fungsi setiap ruangan dan sejarah bangunan, kesan menyeramkan perlahan berubah menjadi kekaguman terhadap kekayaan sejarah yang luar biasa.

Bisakah menginap di Rumah Merah Lasem?

Ya. Rumah Merah Lasem telah menjadi penginapan heritage sejak September 2016 dengan kamar-kamar bernama kota Tiongkok (Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen). Harga Rp 200.000–500.000 per malam sudah termasuk sarapan (lontong tuyuhan atau sate srepeh). Fasilitas: AC, WiFi, TV, kamar mandi dalam, air panas. Tamu menginap otomatis mendapat tur susur bangunan, akses Omah Batik, dan Museum Mini Batik Tiga Negeri.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *